HUJAN masih menangis hari ini. Pada tiap tetes-tetes embun yang terjatuh, aku melihat kenang yang begitu riang menari di atas daun-daun tua. Ada sebutir benih di dalam tanah yang masih kering. Menunggu hidup agar segera menyapanya untuk sesaat atau kematian yang sedari tadi terduduk diam pada sudut-sudut kegelapan.
Jasad tanpa ruh, mungkin itu yang bisa aku sadari saat ini. Berkali-kali sudah kudapati, bahwa rasa begitu tega menikamku. Memendam perih tentangmu begitu sangat menyakitkan. Tanpamu, aku mampu tersenyum dalam setiap kesendirian dan di sisi lain aku mampu membunuh rindu setiap kali dia tumbuh.
Aku memang masih berdiri dengan sekat-sekat kilas-balik kehidupan kita. Menenggak tangis setiap kali kehausan batin membakar dan mencari embun; sekedar membersihkan debu-debu kepedihan. Aku pun takkan mati, jika hidup tanpa dirimu atau menjadi gila bila harus menjadi tunggal. Tapi, ketika aku menjejaki masa depan itu sendiri, aku tersandung, terjatuh dan basah kuyub oleh kenang yang menjadi bayang-banyang. Ya, aku melahap semua kisah yang terjadi hari ini, esok dan nanti; bila harus hidup tanpamu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar